Uniknya Tradisi Ngaben Tikus di Bali

Anda yang sering berlibur atau menginap di hotel di Bali pasti sudah tidak asing lagi dengan berbagai budaya yang ada di Pulau para Dewa ini. Salah satu budaya yang masih dijalankan adalah Upacara Ngaben. Ngaben merupakan upacara pembakaran jenazah manusia yang merupakan tradisi turun menurun masyarakat Bali. Lalu pernahkah Anda mendengar tentang Upacara Ngaben Tikus?

Ngaben Tikus atau Mritake Mrana, seperti namanya merupakan upacara pembakaran mayat tikus. Mritake sendiri berarti mengupacarai, dan Mrana berarti hama penyakit. Meski sering disebut sebagai “Ngaben” namun, upacara ini sendiri sebenarnya

ngaben tikus

ngaben tikus

masuk ke dalam jenis upacara Nangluk Mrana atau ritual menolak bala.

Tradisi ini biasa dilakukan ketika wabah tikus menyerang sawah-sawah petani. Upacara ini bertujuan utnuk mengusir hama tikus, sekaligus dipercaya dapat mengembalikan roh tikus yang telah mati karena dibunuh ke alamnya. Dengan harapan, tikus-tikus ini akan mendapatkan tingkat kehidupan yang lebih baik. Sehingga bila ditakdirkan terlahir kembali, tidak akan menjadi hama perusak sawah dan mengganggu kehidupan petani dan akan tecipta kehidupan damai antara manusia dan hewan.

Seperti halnya dengan upacara Ngaben Manusia, Ngaben Tikus ini pun memiliki tata cara pelaksanaan yang harus dipatuhi. Sebelum rangkaian upacara dimulai, tikus-tikus akan diburu oleh petani, kemudain dikumpulkan sampai berjumlah ratusan hingga ribuan, setelah itu barulah dimulai tata pelaksaan upacara ini.

Pertama, tikus-tikus yang telah mati diletakkan di atas bade atau wadah untuk mayat, seperti bade manusia pada upacara Ngaben biasa. Setelah itu, bade ini akan diusung dan diarak oleh warga menuju ke kuburan desa. Sesampainya di sana, ratusan hingga ribuan bangkai tikus ini dipindahkan ke bade Lembu, atau bade yang berbentuk seperti sapi (lembu) dan kemudian dibakar. Setelah upacara pembakaran ini selesai, selanjutnya dilakukan upacara Nganyut atau membuang abu ke laut yang dipimpin oleh seorang pendeta atau tokoh agama Hindu.

Ritual dengan berbagai perlengkapan sesaji ini menghabiskan biaya yang tidak kecil. Untuk melakukan upacara ini saja, bisa menghabiskan dana sekitar Rp400 juta. Seluruh dana itu didapatkan dari hasil swadaya masyarakat serta dibantu oleh Pemerintah Kabupaten setempat.

Saat ini sendiri, mengingat lahan pertanian yang semakin berkurang, tradisi Ngaben Tikus hanya bisa disaksikan di dua desa, yakni Desa Adat Bedha Kabupaten Tabanan Bali, serta Desa Cemagi, Mengwi, Badung. Mengingat sudah semakin langkanya tradisi ini, pastikan Anda tidak ketinggalan prosesi adat menarik ini ketika mengunjungi atau berlibur di Bali. (raw)

 

 

Tags: , ,

Leave a Reply

%d bloggers like this: