Tips Menghindari Keganasan Kera di Uluwatu

Pura Uluwatu merupakan salah satu objek wisata di Bali yang tidak boleh dilewatkan saat tengah berlibur dan menginap di hotel di Bali. Pura ini terletak di tepi tebing pantai dengan pemadangan yang sangat indah. Sayangnya, keindahan pura ini harus dicapai dengan perjuangan menghadapai kumpulan kera yang ada di hutan sekitar pura. Meski sepintas lucu, namun kumpulan kera ini terkenal nakal dan agresif. Tidak sedikit wisatawan yang kehilangan benda-benda yang dibawa karena dirampas oleh para kera ini.

Tentunya kita tidak ingin kan liburan jadi terganggu karena kera ini kan? Nah, berikut ini beberapa tips yang harus diperhatikan saat ke Uluwatu untuk menghindari serangan kera-kera nakal tersebut di antaranya:

Pura uluwatu

photo by muhd rushdi samsudin

Jangan membawa barang-barang berharga

Sebaiknya tinggalkan barang-barang berharga atau barang yang mudah lepas di mobil. Misalnya saja kacamata, kamera, topi, jam tangan, kalung, dan gelang. Kamera bisa saja dibawa tapi bersiap-siap saja untuk berjuang untuk menjaganya dari sambaran kera. Apalagi, kera-kera ini bergerak dengan cepat.

Jangan memakai alas kaki berwarna cerah

Hindari menggunakan alas kaki berwarna cerah, apalagi yang berupa sandal jepit. Kera-kera Uluwatu sangat tertarik dengan warna-warna cerah seperti merah, kuning, atau hijau terang. Jadi, bila tidak ingin menjadi sasaran kenakalan kera, sebaiknya cari alas kaki berwarna gelap dan yang sulit untuk dilepas.

Jangan bawa makanan

Meski para kera ini sudah disediakan makanan khusus dari penjaga pura, namun mereka tetap tertarik dengan makanan atau minuman yang dibawa oleh pengunjung. Jangan sampai terjadi perebutan makanan antara kita dengan kera.

Jangan melakukan kontak mata langsung

Usahakan jangan melakukan kontak mata langsung dengan kera, apalagi dengan alis yang terangkat. Karena ini merupakan tanda “menantang” kepada si kera. Bisa-bisa kera akan bersikap agresif dan menyerang kita.

Bawa ranting kayu

Sebelum masuk ke area pura, terdapat beberapa ranting kayu yang bisa kita bawa masuk. Ranting kayu ini bisa kita gunakan untuk menghalau kera yang mencoba untuk mendekati kita dan mengambil barang-barang kita.

Hindari beberapa jenis kera

Memang tidak semua kera memiliki tingkat kenakalan yang sama. Sama seperti hewan pada umumnya, beberapa kondisi pada kera ini menandakan tingkat agresifitas yang tinggi. Sebaiknya hindari beberapa kondisi kera di bawah ini:

  1. Kera yang tengah membawa anak,
  2. Kera yang tengah makan,
  3. Kera dengan bulu yang botak (kera jenis ini biasanya lebih agresif ),
  4. Kera yang tengah berkelahi.

Semoga tips tadi bisa membantu melewati kumpulan kera dan membuat liburan di Bali bisa lebih nyaman, ya. Dan bagi yang ingin ingin coba naik unta, terdapat paket bersafari unta di Bali.(raw)

Taman Sukasada Ujung Karangasem Bali

Seolah tidak pernah kehabisan tempat wisata, Pulau Bali selalu memiliki berbagai tempat wisata yang membuat wisatawan ingin datang setiap musim liburan tiba. Hotel di Bali pun tidak pernah sepi dari pengunjung, baik yang datang dengan tujuan untuk berwisata atau untuk urusan bisnis. Apalagi, dengan adanya perbedaan waktu musim liburan di setiap negara, membuat pulau ini tidak pernah seepi dari wisatawan lokal maupun dari berbagai negara.

Hampir seluruh tempat wisata di Bali bernuansa alam, hal inilah yang membuat Bali menjadi tempat yang tepat untuk dikunjungi saat ingin menenangkan pikiran. Menghirup udara segar dan memandangi keindahan alam adalah

taman sukasada bali

taman sukasada bali

cara yang sangat efektif untuk merefreshingkan pikiran. Salah satu lokasi wisata yang cukup terkenal yaitu, Taman Soekasada Ujung atau dikenal juga dengan Taman Ujung Karangasem. Taman ini merupakan sebuah Istana air yang di bangun pada tahun 1919 oleh Raja Karangasem yang terakhir, yaitu I Gusti Bagus Jelantik.

Istana air ini dibangun untuk menyambut tamu penting kerajaan dan sebagai tempat rekreasi bagi Raja dan keluarga kerajaan. Tempat ini sempat mengalami kerusakan akibat letusan Gunung Agung pada Tahun 1963 dan Gempa Bumi cukup besar pada Tahun 1979. Namun pada Tahun 2004, pemerintah melakukan pemugaran terhadap tempat ini. Pemugaran yang dilakukan tetap menjaga keaslian dari bangunan ini, bahkan di beberapa lokasi tidak dilakukan renovasi agar tetap terjaga keasliannya. Sebelum pemerintah melakukan pemugaran, masyarakat Bali banyak yang sering mengunjungi tempat ini. Walaupun yang terlihat hanyalah puing-puing sisa bencana alam, namun nilai sejarah dari tempat ini tetap menarik minat masyarakat Bali untuk mengunjungi tempat ini.

Luas taman ini mencapai 10 Hektar, dan hanya sedikit bangunan yang ada di Taman ini. Sebagian besar taman ini terdiri dari area taman dan kolam utama. Bangunan di taman ini mengambil gaya arsitektur Eropa dan Bali. Terdapat sebuah jembatan beton yang menghubungkan area parkir dan area istana. Dibagian tengah kolam, berdiri sebuah bangunan yang dulunya berfungsi sebagai kamar tidur raja , ruang pertemuan, ruang keluarga, dan yang lainnya. Untuk mencapai bangunan ini, terdapat dua buah jembatan di sisi kanan dan kirinya. (Yv)

Uniknya Pemakaman di Desa Trunyan Bali

Pesona pulau Bali tidak hanya terletak pada keindahan pantai atau kenyamanan hotel di Bali, namun juga keunikan budayanya yang tidak bisa ditemukan di tempat atau daerah lainnya. Seperti tradisi pemakan di daerah Trunyan.

Bila kita sudah familiar dengan tradisi pemakaman adat Bali dengan cara dibakar atau Ngaben, maka Desa Trunyan memiliki adat pemakaman yang lebih unik lagi dan mungkin tidak akan kita temukan di daerah lain di Indonesia. Di Desa Trunyan yang terletak di sebelah timue Danau Batur, Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali Utara ini, penduduknya yang meninggal tidak dibakar atau dimakamkan melalui proses ngaben namun dibiarkan begitu saja hingga membusuk dan menjadi tulang belulang atau dikenal dengan istilah Mepasah.

Di kuburan di desa Trunyan, kita bisa menemukan jenazah-jenazah masyarakat asli Trunyan diletakkan begitu saja di atas tanah, secara bersisian satu sama lain. Alih-alih tanah atau peti, jenazah tadi hanya ditutupi dengan anyaman bambu berbentuk segitiga sama kaki yang

desa trunyan

desa trunyan

disebut dengan Ancak Saji. Ancak Saji ini digunakan untuk melindungi jenazah dari serangan binatang buas.

Jumlah Ancak Saji ini pun unik, tidak semua jenazah ditutupi oleh Ancak Saji, hanya ada 11 saja, tidak pernah bertambah atau berkurang. Jenazah yang berada di Ancak Saji ini jika sudah penuh, tulang-tulang akan digeser sehingga tengkoraknya berkumpul di bagian ujungnya saja.

Disekitar Ancak Saji ini terdapat berbagai perlengkapan pribadi yang dipakai saat masa hidupnya, uang koin, cabikan pakaian yang menyembul dari tanah, hingga tulang belulang.

Meski diletakkan begitu saja, tidak tercium bau menyengat atau aroma busuk yang biasanya ada pada jenazah. Ini lah yang menjadi keunikan dari pemakaman Mepasah ini. Tidak adanya bau busuk tersebut dipercaya karena adanya pohon raksasa bernama Taru Menyan yang berada di dalam komplek pemakaman tersebut.

Pohon besar yang namanya juga merupakan asal usul nama dari desa Trunyan in berdiri tegak di tengah-tengah pemakanan. Pohon ini dipercaya menghasilakn wangi semerbak yang mengilangkan bau busuk di udara pemakaman.

Tidak semua masyarakat Trunyan yang meninggal dapat dimakamkan dengan cara Mepasah ini. Hanya mereka yang ketika meninggal dengan car ayang wajar serta mereka yang telah berumah tangga, atau masih bujang dan anak kecil yang telah tanggal gigi bungsunya yang bisa dimakamkan dengan cara Mepasah.

Sedangkan mereka yang meninggal dengan cara tidak wajar, seperti bunuh diri atau dibunuh, memiliki cacat tubuh, serta anak kecil yang belum tanggal gigi susunya dimakamkan dengan cara dikubur. (raw)

Serunya Berenang Bersama Hiu di Bali

Apa yang ada di pikiran Anda ketika mendengat kalimat berenang dengan ikan hiu? Mungkin yang ada dalam pikiran Anda adalah “Gila”. Namun berenang atau menyelam bersama hiu ternyata meruapakan salah satu kegiatan wisata yang bisa Anda temukan di pulau Bali. Ya, selain pemandangan pantai yang indah dah hotel di Bali yang nyaman, berenang dengan binatang puas ini pun merupakan salah satu daya tarik wisata di Pulau Dewata ini.

Adalah Shark Island di Pulau Serangan Bali, sebelah tenggara Bali yang menawarkan wisata menantang ini. Area berenang dengan hiu ini

shark island bali

shark island bali

merupakan sebuah kandang stainless steel sebesar 10×10 meter dengan pengawasan yang terkontrol dan aman. Sehingga Anda tidak perlu khawatir. Pengunjung segala usia pun bisa menikmati petualangan berharga ini. Namun untuk anak usia 12 tahun disarankan untuk ditemani oleh orang tuanya. Hiu-hiu yang menemani pengujung berenang merupakan hiu-hiu muda atau bayi hiu yang jinak.

Shark Island sendiri merupakan penangkaran hiu yang didirikan oleh Paul Friese. Penangkaran ini didirikan karena kepedulian Paul terhadap keberlangsungan hidup hiu di Bali.  Proyek ini bertujuana untuk mendidik serta memberikan informasi kepada pengunjung dan orang-orang umum mengenai persoalan dalam menghadapai spesies yang terancam punah ini. Serta bagaimana berhubungan dengan hiu dan manfaatnya untuk pengendalian ekosistem laut.

Awalnya, beberapa tahun yang lalu Paul dan temannya mencoba untuk menarik hiu dan menaruhnya di kandang untuk diteliti. Namun sebulan kemudian, ia mendapatkan kabar bahwa seorang nelayan telah membunuh hiu macan sepanjang 3 meter di lokasi tersebut. Dari situ Paul sadar bahwa nelayan setempat setiap malamnya sering memburu hiu yang sudah ia tarik ke daerah tersebut.

Paul pun akhirnya memutuskan untuk membuat penangkaran yang bertujuan melindungi hiu-hiu, terutama hiu muda dan bayi hiu yang lemah dan mudah dijadikan target diburu nelayan.Usahanya tidak sia-sia, para nelayan yang biasanya menangkap hiu sebagai mata pencaharian kini membawa hiu-hiu yang mereka tangkap ke penangkaran milik Paul.

Selain hiu, di tempat ini Anda juga bisa melihat bayi-bayi tukik penyu menetas dan berenang ke laut untuk pertama kalinya. Sungguh merupakan pengalaman yang harus Anda rasakan dan tidak boleh dilewatkan saat mengunjung Bali. (raw)

 

Berburu Makanan Halal di Bali

Selain objek wisata alamnya seperti Pantai atau wisata budaya seperti pura, Bali juga terkenal dengan wisata kulinernya. Makanan berbumbu khas Bali sudah sangat termasyur tidak hanya di dalam negeri namun hingga dunia internasional. Karenanya, tidak afdol bila Anda berlibur ke Bali namun tidak mencicipi kulinernya dan hanya menikmati makanan dari hotel di Bali saja.

Meski begitu, bagi Anda yang beragama Islam atau seorang muslim, harus lebih berhati-hati ketika memilih tempat makan di Bali. Karena, sebagian besar daging yang berada di rumah makan Bali biasanya merupakan daging Babi. Bahkan beberapa rumah makan padang pun rendangnya terbuat dari Babi.
Nah, agar Anda bisa lebih menikmati makanan di Bali tanpa merasa was-was, berikut ini beberapa tempat makan dan makanan di Bali yang

tempat makan di bali

tempat makan di bali

Halal dan patut dicoba, di antaranya:
Warung Rujak Merdeka

Seperti namanya, warung ini terkenal dengan rujak khas Bali, mulai dari rujak kacang, rujak singaraja, rujak kuah pindang, serta hidangan rujak lainnya. Hidangan rujak ini sangat cocok dinikmati di udara panas Bali. Selain rujak, masih ada makanan lain yang patut dicoba yakni, Tipat Cantok, serta aneka minuman segar yang menemani rujak Anda. Warung Rujak Merdeka ini terletak di Jl. Merdeka no.88 Renon-Denpasar.

Ayam Betutu Khas Gilimanuk
Selain ayam, Anda juga bisa menemukan Bebek yang dimasak dengan bumbu khas betutu di tempat makan dengan lambing Badut ini. Rumah makan ini memang sudah sangat terkenal dan memiliki cabang di mana-mana, tidak hanya di Bali saja namun hingga ke Jakarta. Selain ayam betutu, kita juga bisa mencoba nasi campur khas Bali di tempat ini.
Nasi Pedas Ibu Andika
Menu di warung Nasi Pedas yang berada di Jl. Patih Pelantik ini beraneka ragam, mulai dari ayam hingga sayur mayurnya. Namun, yang paling terkenal di sini adalah suwir ayam serta sambalnya yang pedas.
Warung Mbok Limbok
Warung nasi yang terletak di Jl, Patih Jelatik ini menjadikan ayam kremes kalasan sebagai menu andalannya. Selain ayam kremes ini, Anda juga bisa menemukan hidangan menggugah selera lain seperti gurami kremes, lele kremes, tempe penyet, sayur lodeh, serta berbagai sambal. Selain makanan, Anda juga bisa menikmati kerajinan khas Bali di tempat ini karena memang memiliki konsep Galeri Resto.
Nasi Jinggo
Untuk makanan yang satu ini Anda bisa menemukannya dijajakan pantai-pantai wisata dan hotel-hotel. Harganya pun murah mulai dari Rp2.000 hingga Rp5.000, mirip dengan Nasi Kucing di Jogja. Isinya biasanya adalah mie goreng, sambal serundeng, dan ayam suwir pedas.
Nah, selamat menikmati kuliner Bali dengan nyaman. (raw)