Sejarah Pura Tanah Lot Di Bali

Bagi kalian yang senang berwisata, mengunjungi pulau Bali disaat libur panjang pasti akan menjadi hal yang sangat menyenangkan. Jika kalian berencana menghabiskan waktu liburan di pulau ini, satu hal yang jangan sampai lupa untuk kalian lakukan yaitu memesan Hotel di Bali untuk tempat kalian menginap selama berada di pulau ini. Karena hotel di Pulau ini selalu di penuhi oleh wisatawan yang datang, jadi jika kalian tidak memesan jauh-jauh haris sebelumnya akan sulit mendapatkan Hotel di Bali yang sesuai dengan keinginan kalian.
Ketika berwisata ke pulau ini, kalian pasti ingin mengunjungi berbagai tempat kuliner lesehan di Bali dan tempat wisata yang terkenal di Bali. Salah satu tempat wisata yang sangat terkenal dan selalu ramai dikunjungi wisatawan yaitu Pura Tanah Lot. Pura ini sangat menarik wisatawan karena memiliki pemandangan yang sangat indah. Terdapat dua buah Pura yang terletak di atas batu besar, Pura yang pertama terletak diatas bongkahan Batu dan satunya terletak diatas sebuah tebing, mirip dengan Pura Uluwatu. Pura Tanah Lot ini memiliki arti Pura Tanah Laut sesuai dengan lokasinya, tanah yang berarti batu karang yang menyerupai gili atau pulau kecil, dan Lot yang berarti Laut.
Pura Tanah Lot merupakan pura laut tempat pemujaan Sang Hyang Widhi atau para Dewa Laut. Selain itu pura ini juga digunakan untuk memuja kebesaran dan kemuliaan Dang Hyang Niartha sebagai seorang pendeta yang dianggap sebagai Bhatara Sakti wau Rauh. Menurut legenda masyrakat Bali, Pura ini dibangun oleh Brahmana dari Jawa yang menyebarkan agama Hindu ke Pulau Bali, Brahmana ini bernama Danghyang Nirartha. Saat itu, yang menjadi penguasa Tanah Lot bernama Bendesa Beraben merasa iri pada sang Brahmana karena pengikutnya mulai beralih ke Brahmana. Karena itulah Bendesa Beraben segera menyuruh Brahmana untuk meninggalkan Tanah Lot. Brahmana menyanggupi permintaan tersebut, namun sebelum pergi beliau memindahkan sebuah bongkahan batu besar ke tengah perairan dengan kekuatan yang dimilikinya. Diatas bongkahan tersebut beliau membangun Pura, dan kemudian mengubah selendangnya menjadi sebuah ular penjaga Pura.

Leave a Reply

%d bloggers like this: