Gedung Sate, Gedung Bersejarah Dengan Sebuah Ciri Khas

Bagi warga Jakarta, berwisata ke Bandung saat libur tiba adalah hal yang biasa. Maka tidak heran jika Hotel Bandung selalu penuh oleh wisatawan yang menginap saat liburan. Sebab meskipun jarak antara Bandung dan Jakarta tidak terlalu jauh, namun padatnya jalanan membuat kita harus menempuh perjalanan panjang untuk sampai ke sebuah tempat wisata. Itulah sebabnya menginap di hotel di sekitar tempat wisata menjadi pilihan yang tepat untuk menghemat waktu perjalanan.

Semakin banyaknya wisatawan yang berkunjung ke kota ini tak lepas dari semakin bertambahnya lokasi wisata di

gedung sate

gedung sate

Bandung. Hal ini sebenarnya memberikan efek positif, sayangnya keberadaan berbagai wisata baru ini terkadang membuat mereka melupakan wisata lama yang sebelumnya terkenal dan menjadi ciri khas kota Bandung, yaitu gedung sate.

Yap, gedung yang sebelumnya menjadi ciri khas Bandung dan seolah menjadi tempat yang wajib dikunjungi saat ke Bandung, sekarang mulai tergeser. Bahkan mungkin banyak dari kamu yang tidak mengenal gedung ini. Nah supaya kamu tidak melupakan keberadaan gedung bersejarah yang memiliki ciri khas unik ini, yuk kita kembali mengingat sejarah gedung ini.

Gedung sate berlokasi di Jalan Diponegoro No. 22 dan memiliki sebuah ciri khas unik yaitu tusuk sate pada bagian atas bangunannya. Dulu gedung ini tidak hanya terkenal dikalangan masyarakat Bandung saja tetapi juga masyarakat di kota lainnya. Bahkan gedung ini menjadi penanda atau markah tanah kota Bandung. Hingga saat ini, gedung bersejarah ini masih berdiri dan menjadi pusat pemerintahan Jawa Barat.

Pada awalnya gedung ini bernama Gouvernemens Bedrijven (GB) dan peletakkan batu pertamanya dilakukan pada tanggal 27 Juli 1920 oleh Johanna Catherina Coops yang merupakan puteri sulung Walikota Bandung pada masa itu. Merupakan hasil perencanaan sebuah tim yang beranggotakan beberapa arsitek muda yaitu Ir. J. Gerber, Ir. Eh. De Roo, dan Ir. G. Hendriks serta pihak Gemeente van Bandoeng. Proyek ini diketuai oleh Kol. Pur. VL. Slors dengan melibatkan pekerja hingga mencapai sekitar 2.000 orang dan membutuhkan waktu sekitar 4 tahun untuk menyelesaikan bangunan ini.

Selain dari gaya khas Belanda yang dapat terlihat dalam bangunan ini, kamu juga akan menemukan ciri khas Indonesia di dalamnya. Hal tersebut merupakan saran dari seorang arsitektur Belanda bernama Dr. Hendrik Petrus Berlage yang cukup banyak membantu selama proses pembangunan. Selama proses pembuatan dan penyelesaiannya banyak yang merasa terpesona dengan keunikan bangunan ini dan menyebut bahwa gedung ini merupakan gaya arsitektur paling indah di Indonesia.

Nah jelas kan betapa hebatnya gedung bersejarah ini di mata masyarakat Internasional. Jadi jangan sampai kita sendiri sebagai warga negara Indonesia malah tidak menghargai dan melupakan sejarah dari gedung ini. (Vita)

Tags: , ,

Leave a Reply

%d bloggers like this: