Bantu Tingkatkan Standar Hidup Para Petani, Royal Golden Eagle Bangun Kemitraan dengan 30.000 Petani Plasma

Tahun 1987 adalah tahun di mana pemerintah memulai program Perkebunan Inti Rakyat atau PIR-trans. Sejak dijalankannya program tersebut, munculah istilah petani plasma dengan lahan pertanian seluas 2,5 hektar yang diberikan oleh pemerintah. Namun meski memiliki lahan untuk bercocok tanam, para petani juga membutuhkan tempat untuk menjual hasil pertaniannya. Di sinilah grup Royal Golden Eagle melalui salah satu unit bisnisnya yakni Asian Agri membangun kerja sama dengan lebih dari 30.000 petani plasma demi membantu meningkatkan standar hidup mereka.

Asian Agri Membantu Petani Plasma agar Lebih Produktif Melalui Pelatihan Pertanian dan Benih Hasil Pengembangan Perusahaan

Selaku salah satu unit bisnis yang didirikan oleh Sukanto Tanoto, Asian Agri tidak hanya membeli kelapa sawit dari para petani dan menjualnya kembali. Asian Agri juga membantu para petani meningkatkan standar hidupnya dengan berbagai cara.

Melalui Asian Agri, Grup Royal Golden Eagle aktif memberikan pelatihan kepada para petani plasma. Asian Agri melatih agar para petani dapat mengelola kebun kelapa sawitnya dengan cara yang lebih produktif dan berkelanjutan. Perusahaan juga aktif memberikan pemahaman kepada para petani agar tidak membakar lahan. Upaya tersebut dilakukan untuk mencegah kebakaran hutan.

Bantu Tingkatkan Standar Hidup Para Petani, Royal Golden Eagle Bangun Kemitraan dengan 30.000 Petani Plasma

Sumber: asianagri.com

Selain memberi pelatihan kepada para petani, Asian Agri juga menyediakan bibit Topaz. Bibit Topaz merupakan bibit yang dikembangkan oleh Asian Agri. Dibandingkan dengan bibit biasa, bibit ini memiliki banyak keunggulan. Dua keunggulan utama dari bibit ini di antaranya adalah memiliki tingkat produktivitas yang lebih tinggi serta memiliki kemampuan beradaptasi dengan lahan marjinal yang dikenal sangat tidak subur dan sulit untuk ditanami.

Bagi para petani yang memiliki masalah dengan permodalan, grup Royal Golden Eagle juga siap membantu memberikan akses untuk mendapatkan pinjaman dari bank. Bagi para petani, pinjaman seperti ini sangat berarti dan membantu mereka dalam memulai perkebunan baru. Tidak hanya itu, Asian Agri juga ikut membantu para petani plasma agar dapat membayar pinjaman tersebut.

Perusahaan Sukanto Tanoto Membantu Petani untuk Tetap Mendapatkan Penghasilan di Masa Peremajaan

Seiring dengan berjalannya waktu, produktivitas tanaman sawit akan terus mengalami penurunan. Hal ini tentu akan berdampak pada penghasilan para petani. Untuk itulah, kebun harus diremajakan setiap 25 tahun sekali. Inilah yang disebut dengan peremajaan.

Selama proses peremajaan, petani akan kehilangan sumber penghasilan utamanya. Kelapa sawit tidak lagi bisa dipanen. Mereka pun harus menunggu setidaknya 5 tahun lagi agar pohon sawit siap dipanen kembali.

Untuk mengatasi masalah tersebut, perusahaan Sukanto Tanoto rutin melaksanakan program pelatihan untuk membantu para petani mendapatkan sumber penghasilan alternatif. Salah satu program pelatihan yang diselenggarakan oleh adalah pelatihan budidaya ikan lele.

Dalam program pelatihan budidaya ikan lele, grup Royal Golden Eagle langsung mendatangkan ahlinya. Selaku pemilik program, peran Asian Agri tidak hanya menempatkan diri sebagai fasilitator pelatihan. Perusahaan Sukanto Tanoto ini memilih untuk berperan sebagai pendamping para petani. Mulai dari pelatihan hingga lele siap panen dan dipasarkan, Asian Agri selalu mendampingi para petani yang menjadi mitranya.

Grup Royal Golden Eagle juga siap membantu para petani dalam mendapatkan sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Dengan sertifikasi ini, petani mitra Asian Agri tidak hanya akan mendapatkan premi dari penjualan produk yang dihasilkannya. Dengan cara ini, perusahaan Sukanto Tanoto juga mendorong para petani untuk mengaplikasikan praktek pertanian yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Leave a Reply